TIMES KUPANG, MALANG – Kampung Sanan di Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang telah lama dikenal sebagai sentra produksi tempe dan keripik tempe. Produk olahan tempe dari daerah ini menjadi oleh-oleh khas yang banyak diminati wisatawan maupun masyarakat lokal.
Salah satu produk unggulan Kampung Sanan adalah keripik tempe yang memiliki beragam varian rasa. Sedikitnya ada sembilan varian rasa yang ditawarkan, antara lain ayam lada hitam, balado, keju, pedas manis, jagung bakar, jagung manis, dan sambal bawang, original. Salah satunya adalah merek Arjuna yang telah bersertifikat halal, menjamin kualitas dan keamanan produk bagi konsumen.
“Dari dulu sampe sekarang rasanya tuh tetep aja enak, nggak berubah sama sekali. apalagi dengan berbagai macam rasa, cocok banget buat oleh oleh kalau abis main dari Kota Malang.” ujar Rojab salah satu pelanggan.
Usaha keripik tempe dan tempe berlangsung turun temurun dan sudah berjalan puluhan tahun. Tercatat dari 2000 an Kepala Keluarga, 95 persennya menggeluti usaha berkaitan dengan tempe.
Proses penggorengan keripik tempe ke dalam wajan besar dengan minyak panas. Kampung Sanan yang ada di Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing Kota Malang telah menjadi sentra produksi tempe dan keripik tempe. (Foto: Arli Ochaputri Hartono/TIMES Indonesia)
Usaha ini dilakukan dengan proses produksi sederhana, yang mengandalkan bahan baku mudah ditemukan. Pemotongan tempe dilakukan secara manual maupun dengan mesin, sementara penggorengan dilakukan dua kali agar tetap renyah tanpa bahan tambahan berlebihan.
"Kami terus berinovasi dalam menghadirkan varian rasa yang beragam agar pelanggan tidak bosan. Selain itu, kami juga memastikan kualitas tetap terjaga dengan proses produksi yang higienis dan bahan baku berkualitas," ujar salah satu pengusaha keripik tempe di Kampung Sanan.
Produk ini tidak hanya laris di Malang, tetapi juga dipasarkan hingga luar kota, seperti Pasar Pandaan Cheng Hoo di Pasuruan. Harga grosir tempe di Sanan berkisar Rp2.500 per pak ukuran kecil, sementara harga untuk penjualan luar kota sedikit lebih murah, yakni Rp2.200 per paknya.
Meski sukses, bukan berarti tanpa kendala. Cuaca buruk bisa menyebabkan tempe tidak matang sempurna, sementara harga bahan baku seperti tepung tapioka dan minyak goreng kerap berfluktuasi. Namun, harga keripik biasanya hanya naik jika harga gas melonjak.
Menariknya, produksi justru meningkat setelah Hari Raya, sementara selama bulan puasa, penyetoran produk sengaja dihentikan untuk menyesuaikan permintaan.
Tempe Sanan: Dari Pasar Tradisional hingga Ekspor
Proses pengemasan tempe yang sudah diberi ragi, kemudian plastik dilelehkan menggunakan api pada lilin agar bisa merekat dengan sempurna. (Foto: Cindy Audylia Herawati/Times Indonesia)
Selain keripik, produksi tempe di Kampung Sanan juga terus berkembang. Mustakim, salah satu produsen tempe sejak 1991, bercerita bahwa awalnya ia hanya berjualan di pasar tradisional. Kini, distribusinya telah merambah Sidoarjo, Surabaya, dan Batu, bahkan pernah menembus pasar ekspor seperti Amerika dan Malaysia.
“Permintaan tempe melonjak saat Hari Raya. Kami pernah produksi lebih dari satu ton sehari!” ujarnya.
Meski kini produksi stabil di kisaran 750-850 kg per hari, Pak Mustakim tetap berkomitmen menjaga harga terjangkau meski harga kedelai fluktuatif.
Mustakim bercerita, proses pembuatan tempe di Kampung Sanan masih mempertahankan cara tradisional dengan sentuhan teknologi modern. Proses produksi meliputi beberapa tahap, yaitu perebusan kedelai, pemisahan kulit, perendaman, perebusan ulang, penirisan, penambahan ragi bubuk, dan fermentasi selama dua hari hingga tempe siap dikemas.
"Kami tetap mempertahankan metode tradisional karena ini yang membuat rasa tempe lebih khas. Namun, kami juga mengadopsi teknologi modern untuk meningkatkan efisiensi produksi," tambah Mustakim.
Dengan produksi yang terus berkembang, Kampung Sanan tetap menjadi pusat pengolahan tempe yang tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal tetapi juga mampu bersaing di pasar nasional dan internasional. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Kampung Sanan: Surga Tempe dan Keripik Tempe Khas Malang
Pewarta | : Faradina Juninda Nadita (MBKM) |
Editor | : Wahyu Nurdiyanto |